Showing posts with label Bung Karno. Show all posts
Showing posts with label Bung Karno. Show all posts

Friday, December 28, 2012

Wah Ternyata Bung Karno Pernah mengencingi Bung Hatta

Unikei - Ada banyak kisah menarik mengenai hubungan antara sosok mendiang Presiden pertama RI Soekarno dengan wakilnya Bung Hatta. Tapi kisah yang satu ini dijamin sangat unik sekaligus yang paling menggelikan. Pasalnya sang proklamator ini ternyata pernah mengencingi Bung Hatta.

Seperti yang ditulis dalam buku biografi karangan Cindy Adams "Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia" dan dilansir merdeka, Soekarno secara tidak sengaja pernah mengencingi Mohammad Hatta saat berada di pesawat terbang dalam perjalanan pulang dari Jepang.

Menurut catatan, insiden diawali dari panggilan pemimpin tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara, Jenderal Terauchi, pada tanggal 8 Agustus 1945. Terauchi sama sekali tidak menjelaskan apa maksudnya. Hal ini membuat Soekarno dan Hatta bertanya-tanya. Berangkatlah mereka dengan diiringi 20 pejabat tinggi militer Jepang. Pesawat yang ditumpangi Soekarno penuh sesak.

Tapi tak ada yang mau bicara soal alasan pemanggilan tersebut. Ternyata pertemuan Soekarno-Hatta dengan Terauchi di Dalath ini sangat penting dalam sejarah Indonesia. Jepang mengaku tidak akan menghalang-halangi kemerdekaan Indonesia. Jepang sadar mereka sudah dikalahkan pasukan sekutu. Kondisi peperangan sama sekali berubah.

 Jepang sudah kalah habis-habisan dalam perang dunia II di Pasifik. Maka dengan membawa berita baik itu, pulanglah Soekarno dan Hatta ke Indonesia. Kali ini mereka tidak naik pesawat penumpang yang bagus seperti saat berangkat. Mereka naik pesawat pembom yang sudah rongsokan. Banyak lubang bekas tembakan di badan pesawat itu. Pesawat itu juga tidak memiliki tempat duduk.

Para penumpang duduk di lantai pesawat atau berbaring. Tidak ada juga pemanas, sehingga para penumpang menggigil kedinginan. Parahnya, tidak ada juga kamar kecil. Nah, yang jadi masalah, saat itu Soekarno ingin kencing. Dia berbisik pada Suharto, dokter pribadinya. "Aku ingin kencing. Apa yang harus kulakukan?".

Mendapat pertanyaan itu, Suharto pun bingung, tidak ada kamar kecil. Maka dia menunjuk bagian ekor pesawat yang penuh lubang bekas tembakan. "Tidak ada tempatnya, jadi tidak ada jalan lain. Bung harus kencing di sana," kata Suharto. "Baiklah. Aku melangkah pelan-pelan ke bagian belakang pesawat dan melampiaskan hajatku.

Dan baru aku mulai, tiupan angin yang keras menghempas melalui lubang-lubang bekas peluru dan menyemburkan air itu ke seluruh ruangan pesawat. Kawan-kawanku yang malang itu mandi dengan air istimewa," beber Soekarno. Alhasil saat mendarat di Jakarta, seluruh pemimpin bangsa itu masih setengah basah dan pesing berkat siraman air kencing sang pemimpin besar revolusi.

Sumber
»»   Selanjutnya...

Tuesday, December 4, 2012

G30S/PKI, Fakta Bahwa Soeharto "Menyetir" Bung Karno

Unikei - Saat ini kalian sedang membaca artikel  G30S/PKI, Fakta Bahwa Soeharto "Menyetir" Bung Karno  . Dsinini Admin juga akan berbagi artikel lain seperti tentang Foto Foto Artis Terbaru, Berita Dalam Negeri Dan Luar Negeri Terbaru Har Ini, Gosip Artis Terbaru Hari Ini, Kisah-Kisah Religi, Sejarah , Misteri-Misteri Yang Ada Di Dunia,Kisah Berita Atau Artikel Tentang Unik Dan Aneh Yang Ada Di Dunia , Berita Sepak Bola Hari Ini dll. Jangan Lupa Follow @unikei dan selamat membaca artikel G30S/PKI, Fakta Bahwa Soeharto "Menyetir" Bung Karno 



Ketika Jakarta bergejolak akan Gerakan 30 September 1965, Presiden Soekarno dilarikan ke Halim Perdanakusuma. Ia dijauhkan dari Istana Negara yang kala itu sudah dikepung tentara. Tapi keberadaan Bung Karno di landasan udara militer itu tidak lama. Tak lebih dari 12 jam.

Pada 1 Oktober 1965 malam, Soekarno didesak meninggalkan Halim. Si pendesak adalah ajudannya, Bambang Wijanarko. Tapi tuntutan itu sendiri bukan inisiatif Bambang. Melainkan bisikan dari Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Mayor Jenderal Soeharto.

Melalui Dr Johannes Leimena, Bambang menyatakan Bung Karno harus segera pergi dari Halim. Alasan Bambang, malam itu atau esok pagi, Halim pasti diserbu.

Waperdam II, Dr. Johannes Leimena

“Saya perintahkan kendaraan disiapkan. Sekitar pukul 23.00, saya, pengawal pribadi Bung Karno, Pak Leimena, dan Presiden Soekarno naik ke mobil,” kata Bambang dalam artikel majalah Tempo edisi 6 Oktober 1984, berjudul "Kisah-kisah Oktober 1965".

Waktu itu, ada juga Kepala Staf TNI Angkatan Udara Omar Dhani. Tapi dia tidak tahu rencana Bambang. Omar mengira Soekarno bakal menuju landasan terbang. Karena mobil Bung Karno penuh, Omar pun menumpang kendaraan lain.

Tapi, sesampai di simpang tiga, Bambang menyuruh sopir agar tetap lurus. Padahal lapangan terbang ada di kanan jalan. “Waktu Bapak (Bung Karno) bertanya, ‘Mbang, kita mau ke mana?’, saya diam saja. Dia tanya sampai tiga kali,” ujar Bambang.

Ajudan Bung Karno itu baru menjawab pertanyaan Presiden kala Leimena menepuk pundaknya dari belakang. Akhirnya, Bambang jelaskan bahwa mereka menuju Istana Bogor. Mendapat jawaban itu, Bung Karno kembali bertanya. Apa alasannya? Dan Bambang memberikan tiga sebab: menurut perhitungan taktis, Halim tak lama lagi pasti akan diserang; tidak meninggalkan Halim menggunakan pesawat terbang sebab si pilot bisa menyasarkan tujuan; dan lokasi tujuan jangan terlalu jauh dari Jakarta agar masih bisa memantau Ibu Kota.

“Saya tidak katakan bahwa Pak Harto yang memerintahkan saya untuk segera mengusahakan Bung Karno pergi dari Halim,” ujar Bambang.

Bung Karno tidak menyadari bahwa ia sebenarnya dikendalikan Soeharto

Pukul 24.00 lewat sedikit, kendaraan Bung Karno memasuki gerbang utara Istana Bogor. Kata Bambang, semua mulai bisa bernapas lega. Ketika Bung Karno telah duduk di dalam Istana, Bambang berkata bahwa tugas dia mengamankan Presiden sudah usai. Langkah selanjutnya, terserah Bung Karno.

Bambang Widjanarko, ajudan Presiden Soekarno

Lalu Bambang pergi ke kantornya di sebelah Istana Bogor. Ia langsung menelepon Soeharto, "Pak, mission is accomplished. Bapak sudah meninggalkan Halim dan sekarang ada di Istana Bogor,” ujar Bambang.

(Sumber: Tempo)
»»   Selanjutnya...