Saturday, December 29, 2012

Elizabeth Bathory, Mandi Darah Perawan Agar Awet Muda

Unikei - Saat ini kalian sedang membaca artikel Elizabeth Bathory, Mandi Darah Perawan Agar Awet Muda  . Dsini Admin juga akan berbagi artikel lain seperti tentang Foto Foto Artis Terbaru,Foto Penampakan Hantu, Berita Dalam Negeri Dan Luar Negeri Terbaru Hari Ini, Gosip Artis Terbaru Hari Ini, Kisah-Kisah Religi, Sejarah , Misteri-Misteri Yang Ada Di Dunia,Kisah Berita Atau Artikel Tentang Unik Dan Aneh Yang Ada Di Dunia Tentang Alien,UFO Dan Alam Semesta, Berita Sepak Bola Hari Ini dll dan selamat membaca artikel Elizabeth Bathory, Mandi Darah Perawan Agar Awet Muda 


Nama Elizabeth Bathory mungkin masih asing, tetapi sejarah mencatat ratusan pembunuhan yang dia lakukan. Wanita yang hidup di tahun 1500-an ini tercatat telah membunuh 650 orang. Pembunuhan sadis dan kejam terutama pada gadis perawan sengaja dilakukan. Elizabeth percaya bahwa mandi darah perawan akan membuatnya selalu awet muda. Ratusan nyawa melayang sia-sia hanya untuk memenuhi hasrat Elizabeth Bathory untuk cantik di sepanjang usianya.
Baca kisah Elizabeth Bathory selengkapnya di bawah.


Elizabeth Bathory lahir di Hungaria, 7 Agustus 1560. Wanita ini terlahir dalam keluarga bangsawan kaya dan terpandang. Keluarga terkaya di Hungaria ini menyimpan sisi gelap. Lingkar keluarga Bathory tercatat ada yang menjadi memuja setan, menyembah berhala dan beberapa yang lain mengalami kelainan jiwa dan tercatat melakukan kejahatan seksual.

Seperti gadis-gadis pada masanya, Elizabeth Bathory menikah di usia 15 tahun, dengan pria yang 10 tahun lebih tua darinya, bernama Ferenc Nadasdy. Seseuai peraturan, karena kedudukan suaminya lebih rendah, Elizabeth tetap memakai nama Bathory, sedangkan suaminya berganti nama menjadi Ferenc Bathory.

Ferenc Bathory sering bertempur di medan perang. Dia dijuluki Black Hero of Hungary, tetapi hal itu justru membuat Elizabeth merasa kesepian. Sehingga dengan kecantikannya, dia memiliki banyak kekasih gelap yang selalu melayaninya hingga urusan intim. Bahkan, Elizabeth menjadi biseksual karena dia juga berhubungan intim dengan bibinya.

Dengan sisi gelap keluarga Bathory, tidak mengherankan jika Elizabeth mulai mengenal ajaran Satanisme. Dia sering memuaskan hasrat seksualnya dengan menyiksa gadis-gadis muda yang menjadi pelayan istananya. Mereka ditelanjangi, dicambuk, diikat, dan sebagainya. Semua teror rahasia itu terus terjadi hingga suami Elizabeth meninggal di tahun 1600.

Saat memasuki usia 40 tahun, Elizabeth mulai merasakan tanda penuaan pada wajahnya. Hal ini wajar, tetapi Elizabeth tidak ingin kecantikannya hilang. Sebuah kejadian 'tak disengaja', yaitu tamparan pada gadis pelayan membuat tangan Elizabeth terkena darah sang gadis. Saat itu dia melihat bahwa darah gadis perawan memancarkan kemudaan.

Di waktu yang sama, Elizabeth langsung meminta pelayan kepercayaannya untuk menelanjangi sang gadis, mengikatnya di atas bak mandi lalu memotong urat nadi. Gadis pelayan itu meninggal kehabisan darah, tetapi Elizabeth menikmatinya, dia langsung berendam di dalam bak mandi berisi darah sang perawan.


Sejak saat itu, teror dimulai. Elizabeth Bathory mulai berani membunuh gadis-gadis pelayan muda yang bekerja di istananya (dengan bantuan pelayan-pelayan kepercayaannya). Hal sadis dan gila ini terus dilakukan, bahkan meluas hingga penipuan pada gadis-gadis desa dengan iming-iming akan menjadi pelayan istana. Semua bernasib sama, meninggal kehabisan darah setelah diikat di atas bak mandi dan dipotong urat nadinya.

Tentu saja mandi darah perawan tidak memberikan efek apapun pada penuaan yang wajar terjadi pada manusia. Elizabeth merasa darah perawan gadis kelas rendah tidak cukup, sehingga dia mulai menculik gadis-gadis bangsawan. Gadis bangsawan dirasa memiliki darah dengan kualitas yang lebih baik.

Hilangnya pada gadis dari keluarga kaya dan bangsawan tentu saja menjadi berita besar. Tetapi Elizabeth tidak menghentikan aksinya. Dia senang melihat gadis yang sudah diikat dan pelan-pelan meninggal karena kehabisan darah. Tidak hanya mandi darah perawan, Elizabeth bahkan meminum darah mereka untuk memancarkan kecantikan dari dalam.


Hingga pada suatu malam di akhir bulan Desember 1610, pasukan yang dipimpin oleh sepupu Elizabeth sendiri menyerang kastilnya. Di sana, mayat seorang gadis tergeletak di atas meja makan. Ditemukan juga gadis lain yang hampir meninggal dan terikat di tiang, dengan urat nadi yang mengeluarkan darah. Puluhan mayat yang sudah membusuk ditemukan. Kastil milik Elizabeth Bathory ibarat neraka yang menyimpan kesadisan.

Sudah jelas, hal sadis dan mengenaskan ini dibawa ke pengadilan. Dari daftar korban yang ditemukan tewas dan pengaduan berbagai pihak yang kehilangan anak gadisnya, setidaknya 650 nama diyakini menjadi korban kesadisan Elizabeth Bathory. Empat pelayan Elizabeth yang terlibat pembunuhan dihukum mati.

Elizabeth sendiri 'hanya' mendapat hukuman di kurung dalam kamarnya yang dibuat tertutup dan hanya menyisakan lubang kecil untuk memberi makanan. Di tahun 1614, pada usia 54 tahun, Elizabeth Bathory ditemukan meninggal dengan wajah tertelungkup di atas lantai. Kesadisan yang telah dia lakukan membuat banyak orang menjulukinya sebagai The Blood Countess (Wanita Bangsawan Berdarah).

No comments:

Post a Comment

Post a Comment