Saturday, December 1, 2012

Ironis Inilah Tradisi Bakar Diri di India

Unikei - Saat ini kalian sedang membaca artikel . Dsini Admin juga akan berbagi artikel lain seperti tentang Foto Foto Artis Terbaru,Foto Penampakan Hantu, Berita Dalam Negeri Dan Luar Negeri Terbaru Hari Ini, Gosip Artis Terbaru Hari Ini, Kisah-Kisah Religi, Sejarah , Misteri-Misteri Yang Ada Di Dunia,Kisah Berita Atau Artikel Tentang Unik Dan Aneh Yang Ada Di Dunia Tentang Alien,UFO Dan Alam Semesta, Berita Sepak Bola Hari Ini dll dan selamat membaca artikel


Sati, Tradisi Bakar Diri di India

Kata “Satya” yang ditemukan dalam bahasa Jawa kuno, merupakan kata yang di adopsi daribahasa Sanskerta India, dari bentuk kata sifat “Sati”, yang berarti tulus, jujur, loyal (untuk satu suami, raja; bersumpah kepada seseorang), berbudi luhur, baik. Untuk mengenal lebih jauh akanarti dari kata Satya (setia), mari kita mengenal terlebih dahulu arti dari kata Sati.


Istilah Sati (Su-thi atauSut te e) di India di duga keras berasal dari kisah Dewi Sati, yang juga dikenal dengan nama Dakshayani. Dewi Sati atau Dakshayani di kenal akan tindakan pengorbanan dirinya dengan terjun ke dalam api pembakaran, karena ia tak mampu menahan penghinaanDakhsa (ayahnya), terhadap Shiva (suaminya). Setelah pembakaran diri dan mati, Dakshayani bereinkarnasi, lahir untuk kedua kalinya sebagai puteri dari raja gunung, Himawan, dengan nama Parvati, yang akhirnya kembali menjadi istri dari Shiva untuk kedua kalinya.

Kisah kesetiaan sempurna Dewi Sati kepada Siva, suaminya, sering dikutip untuk membenarkan asal-usul dari praktek Sati di India, praktek yang menggambarkan bentuk kesetiaan terakhirseorang istri dengan mengorbankan diri hidup-hidup di dalam api kremasi mayat suami. Dalam Sanskerta, Sati dibedakan dalam dua jenis: Sahamarana, sahagamanaat au anvarohana.

Kematian seorang wanita yang naik ke tumpukan kayu bakar kremasi mayat suami dan mati bersama. Anumarana. Mayat suami di kremasi terlebih dahulu dan sang istri kemudian di kremasi terpisah ditempat lain, kadang-kadang dengan abu suami atau kenang-kenangan lain dari suami. Sedangkan pada masa peperangan, para istri dari pangeran dan raja yang kalah melakukanbunuh diri (Jauhar) untuk menghindari diri jatuh ke tangan musuh yang menang.Jau har banyakdipraktekkan di antara para bangsawan Rajput. Swaami (suami) dan Satya (setia)


Di India, bentuk kesetiaan seorang wanita terhadap pasangannya, sudah terpatri Dalam dan berlangsung sejak beratus abad. Pada periode epikdi India (sekitar 500 SM - 500 M) buku-buku hukum yang disebut Dharmashastra, atau risalah tentang perilaku yang benar (dharma), di kompilasi olehgolongan lelaki Brahman menjadi standar agamayang digunakan untuk mengukur perilaku seseorang.

Di dalam Dharmashastra, tertulis akan ideologiStridharma, ideologi tentang cara hidup yang benarbagi seorang istri, yang menuntut pengabdianwanita pada satu suami. Ideologi Stridharma menyatakan bahwa suami bagiseorang wanita adalah semacam “tuhan”, dandalam bahasa Sanskerta, kata untuk pasangan istriadalah -“Swaami”- (suami) yang secara harfiah diartikan “tuhan dan guru”.

Sehingga, kebahagiaan hidup seorang istri yang ideal adalah memuaskan suaminya secara penuh, sedangkan kekhawatiran seorang istri yang sejati adalah ketidakmampuan melakukan pengabdian secara utuh dan menyeluruh. Pengabdian dalam bentuk kesetiaan yang tidakdapat dipisahkan sekalipun dengan kematian.Keseluruhan sikap dan kesempurnaan ekspresikesetiaan tertinggi seorang istri dalam suatu perkawinan di India diungkapkan dalam bentukSati.

Apakah Sati tepatnya merupakan praktek pengorbanan diri yang asli berasal dari India atau diadopsi dari budaya lain, tidak diketahui dengan pasti. Catatan tertua yang didapati tentangpengorbanan diri wanita di India ditulis sekitar tahun 326 SM oleh Aristobulus dari Cassandreia,seorang sejarawan Yunani yang turut dalam ekspedisi Alexander Agung di Lembah Indus, India.Beliau menemukan adanya praktek pengorbanan wanita di kota Taxila (kini masuk di dalam wilayah Pakistan).

Sejarah India serta teks-teks sastra yang memuat praktek Sati, banyak menarik perhatian bangsaasing ke India. Di dalam pemerintahan kolonial Inggris, pada akhir tahun kedelapan belas danawal abad kesembilan belas, tulisan-tulisan tentang Sati segera berkembang dari kisah-kisah yangeksotis hingga tulisan-tulisan yang langsung mengutuk keberadaan praktek Sati.

Praktek Sati akhirnya dilarang oleh Pemerintah Inggris pada tahun 1829 oleh Lord Bentinck,Gubernur-Jenderal India (1828-1835) dan diperkuat kembali di abad 20 pada Sati (Prevention)Act 1987. Namun, terlepas dari larangan hukum pada kenyataannya, hal ini terus terjadi hinggaabad ke 21, sebagaimana dibuktikan dengan berita terakhir pada tanggal 13 Oktober 2008, didesa Chechar (India tengah). Seorang janda bernama Lalmati Verma berusia 71 tahun,mengorbankan dirinya kedalam tumpukan api kremasi Shivnandan Verma, suaminya.

Itulah sati merupakan simbol kestiaan tertinggi seorang istri kepada suaminya. Masih maukah istri-istri sekarang mengorbankan segalanya untuk suaminya???. Apakah praktek sati harus diterapkan lagi, jika melihat kenyataan-kenyataan sekarang, dimana banyak seseorang yang berstatus istri, malah selingkuh dan menyeleweng pada suaminya???, meskipun di sisi lain praktek sati tidak manusiawi, namun maknanya harus diresapi. Itulah sati simbol kesetiaan Istri kepada suaminya.

SEJARAH SATI

Sati, menurut seorang teolog Hindu terkemuka, memiliki akarnya di masyarakat Yunani kuno. Korban api mirip sati ada dalam masyarakat Jerman, Slavia dan ras lain di samping Yunani. Sangat mungkin praktek Sati datang ke India dalam tahun 1 AD. Melalui Kushana, sebuah ras Asia Tengah yang memerintah bagian barat laut India. Sati tidak pernah dipraktekkan di manapun di India Selatan. Bahkan di India Utara, ia dipraktekan kebanyakan di antara suku perang yang disebut Rajput yang merupakan keturunan dari Kushana, Saka dan Parthiana.

Suku bangsa Rajput adalah suku pahlawan perang Hindu yang sangat fanatik, yang senantiasa dalam peperangan melawan kaum muslim dan juga diantara mereka sendiri. Tampaknya bangsa Rajput ini memiliki banyak janda-janda muda yang mungkin akan menimbulkan masalah etik dan moral dalam masyarakat monogami. Dari pada mengijinkan seorang laki-laki, seperti orang Islam, memiliki lebih dari satu istri, kaum Rajput memakai cara mudah untuk menyelesaikan soal janda yang tidak diharapkan dengan Sati. Itulah satu-satunya alasan logis yang dapat kita ambil mengenai praktek Sati yang sangat menghebohkan ini.

Lihat foto lainnya:






Mungkin ini yang di namakan cinta sampe mati
»»   Selanjutnya...

6 Hal Horor Yang Sering Kamu Alami Berikut Penjelasanya

Unikei - Saat ini kalian sedang membaca artikel 6 Hal Horor Yang Sering Kamu Alami Berikut Penjelasanya. Dsini Admin juga akan berbagi artikel lain seperti tentang Foto Foto Artis Terbaru,Foto Penampakan Hantu, Berita Dalam Negeri Dan Luar Negeri Terbaru Hari Ini, Gosip Artis Terbaru Hari Ini, Kisah-Kisah Religi, Sejarah , Misteri-Misteri Yang Ada Di Dunia,Kisah Berita Atau Artikel Tentang Unik Dan Aneh Yang Ada Di Dunia Tentang Alien,UFO Dan Alam Semesta, Berita Sepak Bola Hari Ini dll dan selamat membaca artikel  6 Hal Horor Yang Sering Kamu Alami Berikut Penjelasanya



Jadi ya, dunia manusia yang kita tinggali ini konon katanya paralel dan berdampingan dengan dunia-dunia yang lain. Bukan dunia fantasi tentunya yang MBDC maksudkan di sini. Akan tetapi dunia arwah, jin, setan, dan sejenisnya deh. Pokoknya yang serem-serem.

Karena dunia kita ini berdampingan dengan dunia mereka, maka kadang-kadang kedua dunia tersebut tanpa sengaja bertemu. Akibatnya, kamu pun mengalami kejadian-kejadian yang sepertinya biasa-biasa saja, namun sebenarnya mengandung penjelasan mistis di belakangnya. Ih apaan aja tuh?

Punggung atau Leher Kamu Terasa Pegal

Mungkin kamu pikir punggung atau leher kamu pegal-pegal karena kamu salah posisi tidur, atau karena kecapean habis ngangkat barbel. Namun tunggu dulu! Ada penjelasan horor dibalik punggung atau leher yang kadang sering terasa pegal dan berat, yaitu karena ada sesosok makhluk mistis (atau lebih dari satu) yang sedang gelendotan di punggung atau leher kamu. Istilahnya ‘ketempelan’. Ini katanya terjadi kalau kamu main ke suatu daerah yang baru, terus berbuat sesuatu yang kurang berkenan buat si ‘penunggu’ tempat tersebut. Akhirnya dia nempelin kamu kemana-mana karena dia menuntut kamu minta maaf atau minta izin sama dia. Ada juga yang bilang, ‘ketempelan’ ini terjadi karena ada sesuatu di dalam diri kamu yang menarik perhatian sesosok makhluk tersebut. Paling nggak kalau memang itu alasannya kamu bisa menghibur diri kamu yang sampe sekarang gak ada yang naksir. Gebetan gak dapet, kuntilanak nempel terus!

Anjing Di Sekitar Rumah Kamu Melolong

Ada yang bilang ini terjadi karena emang kebiasaan si anjing aja, atau karena si anjing kesepian atau kedinginan. Tapi, menurut sudut pandang mistis, lolongan panjang seekor anjing apalagi yang terjadi pada tengah malam atau dini hari, disebabkan oleh “kunjungan” makhluk gaib. Katanya lagi, kalau yang melolong-lolong itu adalah anjing kamu, yang “berkunjung” itu adalah arwah seseorang yang kenal dengan kamu atau keluarga kamu. Pokoknya dia pengen “ngelihat” kamu aja dan pengen tau kabar kamu di malam itu. Nah kalau anjing kamu melolongnya tiap hari, bisa jadi si arwah itu sudah memutuskan untuk menetap di rumah kamu, lantas muncul setiap jam di mana sang anjing mulai melolong.

Tengkuk Dingin dan Bulu Kuduk Merinding Tiba-tiba

Katanya sih ini karena perubahan cuaca. Ah tapi kurang seru banget penjelasan semacam itu, ya kan? Konon, di saat kamu merasakan seperti ini, itu karena ada “sesuatu” yang lewat di belakangmu. Nah, “sesuatu” ini biasanya bisa kamu lihat di sudut-sudut pandangan kamu. Buat yang nggak dikaruniai anugerah bisa lihat setan dengan gampang, “sesuatu” ini bisa terlihat samar-samar lewat anak mata. Coba aja buktiin sendiri kali berikutnya kamu lagi sendirian malem-malem dan bulu kuduk kamu merinding tiba-tiba…

Terdengar Ketukan Tiga Kali di Pintu atau Jendela Pada Malam Hari

Bisa jadi ini karena ada tamu, ya kan? Siapa tahu Pak Lurah, mau sensus malam-malam, atau tukang mie tek-tek mau nagih hutang. Tapi konon kalau ketukannya persis tiga kali… tok tok tok…, “tamu” yang datang adalah tamu istimewa. Alias tamu dari alam gaib yang berniat iseng mengganggu kamu, atau sekedar minta izin sambil memberi tahu bahwa dia akan “menginap” di tempat kamu selama beberapa saat. Oh iya, masih ada yang pada inget hantu mukena nggak sih? Nah katanya dia selalu muncul disertai dengan tiga kali ketukan di rumah-rumah yang didatanginya.

Terbangun Tengah Malam atau Dini Hari

Ini mungkin sering kamu alami. Penyebabnya bisa bermacam-macam, tapi salah satunya adalah… karena saat ini ada sesosok makhluk yang sedang mengamati kamu tidur. Bisa jadi sosok tersebut ada di sudut ruangan kamar kamu, atau sedang jongkok di pinggiran tempat tidur kamu sambil mengamati kamu yang sedang terlelap. Kenapa yang begini bisa bikin kamu terbangun tiba-tiba? Karena katanya di saat kamu memandang seseorang dengan sangat fokus, ada semacam energi yang tersalurkan di sana. Ini sebabnya sering terjadi ketika kamu lagi ngelihatin gebetan kamu dari jauh, dia bisa tiba-tiba nengok ke arah kamu meskipun nggak dipanggil sama sekali. Nah ini karena di alam bawah sadarnya, dia bisa merasakan energi kamu. Ini juga yang dirasakan alam bawah sadar kamu ketika kamu sedang diamat-amati oleh sesosok makhluk gaib di malam hari… akhirnya kamu pun terbangun.

Kamu Nyasar

Jadi ceritanya kamu sedang bertualang ke tempat yang belum pernah kamu datangi sebelumnya. Bisa jadi pas kamu lagi nyari rumah gebetan kamu yang ternyata di pelosok keluar masuk kampung, atau sebuah villa di tengah hutan yang kamu sewa bareng teman-teman kamu. Tapi kamu nyasar melulu! Padahal udah dikasih alamat lengkapnya. Dan perasaan kamu terus aja muter-muter di tempat yang sama. Ini bisa jadi karena kamu belum “minta izin” sama “penunggu” daerah tersebut. Disarankan, kalau kamu datang ke sebuah daerah baru, supaya kamu nggak dibikin nyasar sama penunggunya, hendaknya kamu bilang permisi-permisi dalam hati, atau bilang “samlekhum”, “pang… numpang numpang…”… atau, kalau saran MBDC sih, install GPS. Semoga gak nyasar lagi yah.

Kamu tahu hal-hal lain lagi yang konon punya penjelasan mistis dibaliknya? Berbagi di comment-nya! Daripada disimpan sendiri ntar jadi sawan…
»»   Selanjutnya...

Penting !! Jangan Atasi Luka Bakar Dengan Pasta Gigi, Bahaya!

Unikei - Saat ini kalian sedang membaca artikel Penting !! Jangan Atasi Luka Bakar Dengan Pasta Gigi, Bahaya!. Dsini Admin juga akan berbagi artikel lain seperti tentang Foto Foto Artis Terbaru,Foto Penampakan Hantu, Berita Dalam Negeri Dan Luar Negeri Terbaru Hari Ini, Gosip Artis Terbaru Hari Ini, Kisah-Kisah Religi, Sejarah , Misteri-Misteri Yang Ada Di Dunia,Kisah Berita Atau Artikel Tentang Unik Dan Aneh Yang Ada Di Dunia Tentang Alien,UFO Dan Alam Semesta, Berita Sepak Bola Hari Ini dll dan selamat membaca artikel Penting !! Jangan Atasi Luka Bakar Dengan Pasta Gigi, Bahaya!



Ada yang pernah bilang, saat mengalami luka bakar, segera olesi dengan pasta gigi. Tapi tunggu dulu, info tersebut ternyata tidak selamanya benar lho.

Mengoleskan pasta gigi pada luka bakar ringan untuk pertolongan pertama adalah tindakan salah. Hal tersebut ternyata justru dapat semakin memperburuk kondisi luka, demikian disampaikan Dokter ahli bedah plastik dari RSCM-FKUI dr. Aditya Wardhana, Sp.BP.

Pada beberapa kasus, luka tersebut malah terasa perih, panas dan bahkan dapat meninggalkan bekas kehitaman.

Selain pasta gigi, pemberian mentega dan es batu pada luka bakar ringan juga tidak tepat. "Ini karena bahan kimia yang terkandung di dalam produk-produk tersebut tidak bisa diterima oleh kulit yang terluka," kata Aditya saat jumpa pers di auditorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta, Sabtu.

Ia menjelaskan, pemberian es batu justru membuat pembuluh darah berkerut karena perubahan suhu yang ekstrim sehingga memperburuk kondisi luka.

Untuk pertolongan pertama, Aditya menganjurkan agar luka bakar segera didinginkan dengan cara mengalirkan air bersuhu sekitar 15 derajat pada luka bakar selama 20 menit.

"Ini berfungsi untuk mengurangi nyeri atau edema," tutupnya.
»»   Selanjutnya...

Ajaib! Tenggelam 4 Jam di Laut Tapi Masih Hidup

Keajaiban menaungi nasib mantan Bupati Gianyar, Bali Anak Agung Gede Bharata (61). Ia selamat setelah tenggelam selama empat jam. Namun, istrinya ditemukan telah tak bernyawa.

Bharata tenggelam bersama istrinya Nanik Wirna (58) di Pantai Batu Klotok, Gainyar, pukul 10.00 WITA, Mereka terseret arus saat sang istri terpeleset ke dalam muara sungai.

Sang istri ditemukan tak bernyawa pukul 14.00 wita di pantai Lebih, Gianyar. Petugas gabungan dari kepolisian dan Tim Sar menemukan korban dalam kondisi tidak bernyawa.

Sedangkan keajaiban dialami Bharata. Ia ditemukan selamat dari musibah ini, meskipun telah tenggelam sekitar selama empat jam. Tubuhnya ditemukan terdampar di pantai Selukat, Desa Masceti, Blahbatuh. Saat ditemukan, Beratha sudah dalam kondisi tidak bergerak sedikit pun.
Namun setelah dievakuasi ke RS Sanjiwani Gianyar, bupati periode 2002-2007 itu siuman. “Kondisinya kala itu diperkirakan meninggal, tetapi ketika diperiksa tiba-tiba beliau sadar serta bisa berbicara,” kata humas RSUD Sanjiwani I Gusti Yudiarta.

Kabar selamatnya keturunan Raja Gianyar ini dari maut membuat disambut bahagia keluarganya. Keluarga korban awalnya hampir tidak percaya kalau Baratha dinyatakan masih hidup.

Bupati Gianyar Cokorda Artha Ardhana Sukawati bersyukur atas keselamatan korban. “Syukur beliau selamat dari musibah ini. Ini berkah bagi semua,” katanya.
»»   Selanjutnya...

Kisah Dibalik Larangan Menikah Jawa-Sunda

Unikei - Saat ini kalian sedang membaca artikel Kisah Dibalik Larangan Menikah Jawa-Sunda . Dsini Admin juga akan berbagi artikel lain seperti tentang Foto Foto Artis Terbaru,Foto Penampakan Hantu, Berita Dalam Negeri Dan Luar Negeri Terbaru Hari Ini, Gosip Artis Terbaru Hari Ini, Kisah-Kisah Religi, Sejarah , Misteri-Misteri Yang Ada Di Dunia,Kisah Berita Atau Artikel Tentang Unik Dan Aneh Yang Ada Di Dunia Tentang Alien,UFO Dan Alam Semesta, Berita Sepak Bola Hari Ini dll dan selamat membaca artikel Kisah Dibalik Larangan Menikah Jawa-Sunda


Pernahkah anda mendengar bahwa orang Sunda dilarang menikah dengan orang Jawa atau sebaliknya? Ternyata hal itu hingga ini masih dipercaya oleh sebagian masyarakat kita. Lalu apa sebabnya?

Mitos tersebut hingga kini masih dipegang teguh beberapa gelintir orang. Tidak bahagia, melarat, tidak langgeng dan hal yang tidak baik bakal menimpa orang yang melanggar mitos tersebut.

Lalu mengapa orang Sunda dan Jawa dilarang menikah dan membina rumah tangga. Tidak ada literatur yang menuliskan tentang asal muasal mitos larang perkawinan itu. Namun mitos itu diduga akibat dari tragedi perang Bubat.

Peristiwa Perang Bubat diawali dari niat Prabu Hayam Wuruk yang ingin memperistri putri Dyah Pitaloka Citraresmi dari Negeri Sunda. Konon ketertarikan Hayam Wuruk terhadap putri tersebut karena beredarnya lukisan sang putri di Majapahit, yang dilukis secara diam-diam oleh seorang seniman pada masa itu, bernama Sungging Prabangkara.

Hayam Wuruk memang berniat memperistri Dyah Pitaloka dengan didorong alasan politik, yaitu untuk mengikat persekutuan dengan Negeri Sunda. Atas restu dari keluarga kerajaan Majapahit, Hayam Wuruk mengirimkan surat kehormatan kepada Maharaja Linggabuana untuk melamar Dyah Pitaloka. Upacara pernikahan rencananya akan dilangsungkan di Majapahit.

Maharaja Linggabuana lalu berangkat bersama rombongan Sunda ke Majapahit dan diterima serta ditempatkan di Pesanggrahan Bubat. Raja Sunda datang ke Bubat beserta permaisuri dan putri Dyah Pitaloka dengan diiringi sedikit prajurit.

Menurut Kidung Sundayana, timbul niat Mahapatih Gajah Mada untuk menguasai Kerajaan Sunda. Gajah Mada ingin memenuhi Sumpah Palapa yang dibuatnya pada masa sebelum Hayam Wuruk naik tahta, sebab dari berbagai kerajaan di Nusantara yang sudah ditaklukkan Majapahit, hanya kerajaan Sunda lah yang belum dikuasai.

Dengan maksud tersebut, Gajah Mada membuat alasan oleh untuk menganggap bahwa kedatangan rombongan Sunda di Pesanggrahan Bubat adalah bentuk penyerahan diri Kerajaan Sunda kepada Majapahit. Gajah Mada mendesak Hayam Wuruk untuk menerima Dyah Pitaloka bukan sebagai pengantin, tetapi sebagai tanda takluk Negeri Sunda dan pengakuan superioritas Majapahit atas Sunda di Nusantara. Hayam Wuruk sendiri disebutkan bimbang atas permasalahan tersebut, mengingat Gajah Mada adalah Mahapatih yang diandalkan Majapahit pada saat itu.

Versi lain menyebut bahwa Raja Hayam Wuruk ternyata sejak kecil sudah dijodohkan dengan adik sepupunya Putri Sekartaji atau Hindu Dewi. Sehingga Hayam Wuruk harus menikahi Hindu Dewi sedangkan Dyah Pitaloka hanya dianggap tanda takluk.

“Soal pernikahan itu, teori saya tentang Gajah Mada, Gajah Mada tidak bersalah. Gajah Mada hanya melaksanakan titah sang raja. Gajah Mada hendak menjodohkan Hayam Wuruk dengan Diah Pitaloka. Gajah mada Ingin sekali untuk menyatukan antara Raja Sunda dan Raja Jawa lalu bergabung. Indah sekali,” tegas sejarawan sekaligus arkeolog Universitas Indonesia (UI) Agus Aris Munandar.

Hal ini dia sampaikan dalam seminar Borobudur Writers & Cultural Festival 2012 bertemakan; ‘Kontroversi Gajah Mada Dalam Perspektif Fiksi dan Sejarah’ di Manohara Hotel, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang, Jateng, Selasa (30/10).

Pihak Pajajaran tidak terima bila kedatangannya ke Majapahit hanya menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai taklukan. Kemudian terjadi insiden perselisihan antara utusan Linggabuana dengan Gajah Mada.

Perselisihan ini diakhiri dengan dimaki-makinya Gajah Mada oleh utusan Negeri Sunda yang terkejut bahwa kedatangan mereka hanya untuk memberikan tanda takluk dan mengakui superioritas Majapahit, bukan karena undangan sebelumnya. Namun Gajah Mada tetap dalam posisi semula.

Belum lagi Hayam Wuruk memberikan putusannya, Gajah Mada sudah mengerahkan pasukan Bhayangkara ke Pesanggrahan Bubat dan mengancam Linggabuana untuk mengakui superioritas Majapahit. Demi mempertahankan kehormatan sebagai ksatria Sunda, Linggabuana menolak tekanan itu.

Terjadilah peperangan yang tidak seimbang antara Gajah Mada dengan pasukannya yang berjumlah besar, melawan Linggabuana dengan pasukan pengawal kerajaan (Balamati) yang berjumlah kecil serta para pejabat dan menteri kerajaan yang ikut dalam kunjungan itu. Peristiwa itu berakhir dengan gugurnya Raja Linggabuana, para menteri, pejabat kerajaan beserta segenap keluarga kerajaan Sunda di Pesanggrahan Bubat.

Tradisi menyebutkan sang Putri Dyah Pitaloka dengan hati berduka melakukan bela pati atau bunuh diri untuk membela kehormatan bangsa dan negaranya. Menurut tata perilaku dan nilai-nilai kasta ksatria, tindakan bunuh diri ritual dilakukan oleh para perempuan kasta tersebut jika kaum laki-lakinya telah gugur. Perbuatan itu diharapkan dapat membela harga diri sekaligus untuk melindungi kesucian mereka, yaitu menghadapi kemungkinan dipermalukan karena pemerkosaan, penganiayaan, atau diperbudak.

Hayam Wuruk pun kemudian meratapi kematian Dyah Pitaloka. Akibat peristiwa Bubat ini, bahwa hubungan Hayam Wuruk dengan Gajah Mada menjadi renggang. Gajah Mada sendiri menghadapi tentangan, kecurigaan, dan kecaman dari pihak pejabat dan bangsawan Majapahit, karena tindakannya dianggap ceroboh dan gegabah. Mahapatih Gajah Mada dianggap terlalu berani dan lancang dengan tidak mengindahkan keinginan dan perasaan sang Mahkota, Raja Hayam Wuruk sendiri.

Tragedi perang Bubat juga merusak hubungan kenegaraan antar Majapahit dan Pajajaran atau Sunda dan terus berlangsung hingga bertahun-tahun kemudian. Hubungan Sunda-Majapahit tidak pernah pulih seperti sedia kala.

Pangeran Niskalawastu Kancana, adik Putri Dyah Pitaloka yang tetap tinggal di istana Kawali dan tidak ikut ke Majapahit mengiringi keluarganya karena saat itu masih terlalu kecil dan menjadi satu-satunya keturunan Raja yang masih hidup dan kemudian akan naik takhta menjadi Prabu Niskalawastu Kancana.

Kebijakan Prabu Niskalawastu Kancana antara lain memutuskan hubungan diplomatik dengan Majapahit dan menerapkan isolasi terbatas dalam hubungan kenegaraan antar kedua kerajaan. Akibat peristiwa ini pula, di kalangan kerabat Negeri Sunda diberlakukan peraturan larangan estri ti luaran (beristri dari luar), yang isinya diantaranya tidak boleh menikah dari luar lingkungan kerabat Sunda, atau sebagian lagi mengatakan tidak boleh menikah dengan pihak Majapahit. Peraturan ini kemudian ditafsirkan lebih luas sebagai larangan bagi orang Sunda untuk menikahi orang Jawa.

Tindakan keberanian dan keperwiraan Raja Sunda dan putri Dyah Pitaloka untuk melakukan tindakan bela pati (berani mati) dihormati dan dimuliakan oleh rakyat Sunda dan dianggap sebagai teladan. Raja Lingga Buana dijuluki ‘Prabu Wangi’ (bahasa Sunda: raja yang harum namanya) karena kepahlawanannya membela harga diri negaranya. Keturunannya, raja-raja Sunda kemudian dijuluki Siliwangi yang berasal dari kata Silih Wangi yang berarti pengganti, pewaris atau penerus Prabu Wangi.

Beberapa reaksi tersebut mencerminkan kekecewaan dan kemarahan masyarakat Sunda kepada Majapahit, sebuah sentimen yang kemudian berkembang menjadi semacam rasa persaingan dan permusuhan antara suku Sunda dan Jawa yang dalam beberapa hal masih tersisa hingga kini. Antara lain, tidak seperti kota-kota lain di Indonesia, di kota Bandung, ibu kota Jawa Barat sekaligus pusat budaya Sunda, tidak ditemukan jalan bernama ‘Gajah Mada’ atau ‘Majapahit’. Meskipun Gajah Mada dianggap sebagai tokoh pahlawan nasional Indonesia, kebanyakan rakyat Sunda menganggapnya tidak pantas akibat tindakannya yang dianggap tidak terpuji dalam tragedi ini.
»»   Selanjutnya...