Showing posts with label Teroris Solo. Show all posts
Showing posts with label Teroris Solo. Show all posts

Monday, December 31, 2012

Jenazah Terduga Teroris Solo Anak Tiri Abu Omar


Dikenali sebagai Farhan, alumnus Ponpes Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo yang dipimpin oleh Abu Bakar Ba'asyir.

Dua orang terduga teroris tertembak mati dalam operasi penangkapan yang digelar Densus 88/Antiteror Mabes Polri di Desa Tipes, Kecamatan Serengan, Solo atau tepatnya di Jalan Veteran, di sebelah Hipermarket Lotte Mart pada Jumat (31/8).

Salah satunya dikenali sebagai Farhan yang diyakini polisi sebagai anak tiri Abu Omar. Siapa Farhan dan siapa Abu Omar?

Penyidik Densus 88/Mabes Polri yang mengikuti operasi ini menceritakan jika Farhan merupakan alumnus Ponpes Al-Mukmin Ngruki Sukoharjo yang dipimpin oleh Abu Bakar Ba'asyir.

"Farhan lama di Filipina Selatan dan baru kembali ke Indonesia sekitar 2010. Tapi apakah dia tergabung dalam Jemaah Anshoru Tauhid (JAT) atau tidak, kita belum tahu," imbuh sumber yang tak mau disebutkan namanya itu.

Sementara Abu Omar alias Abu Umar alias Muhammad Ichwan, 41, adalah teroris "gaek" yang baru saja divonis 10 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Barat.

Abu Omar bersama Priyatmo alias Mamo dan Taufik Hidayat aliat Abu Wildan terbukti secara sah dan meyakinkan telah melakukan pemufakatan jahat dengan memiliki senjata api ilegal untuk melakukan tindakan terorisme.

Abu Omar yang juga dikenali sebagai Indra Kusuma alias Andi Yunus alias Nico Salman ditangkap Juli 2011 di Jakarta. Sejak itu Densus aktif menghabisi jaringannya karena potensinya yang membahayakan.

Abu Omar ditangkap saat hendak menyelundupkan senjata ke Indonesia dari Filipina Selatan via Tawau, Malaysia. Dia juga dituduh merencanakan penyerangan di Kedutaan Singapura, Jakarta.

Sebelumnya, pihak Polri menyatakan, dana operasional aktivitas kelompok Abu Omar -- dalam upayanya untuk melancarkan aksi teror -- dihasilkan dari jual beli senjata api dan dana pribadi.

Mereka juga menyiapkan rencana menculik dan membunuh kelompok Syiah dengan sebutan operasi Ightilat. Namun operasi ini belum terencana karena terburu terbongkar oleh polisi.

Abu Omar sudah dicari polisi sejak tahun 1999 karena terlibat percobaan pembunuhan terhadap mantan Menteri Pertahanan Matori Abdul Jalil.

Dia juga terlibat dalam penyediaan senjata api yang digunakan menyerang anggota Brimob di Loki, Ambon pada 2005 yang menewaskan lima orang anggota Brimob.

Penyerangan ini dimotori oleh Djaja alias Asep Dahlan yang kini mendekam di Lapas Porong, Jawa Timur. Asep dikenal sebagai anggota Mujahidin Ambon yang berafiliasi dengan Jamaah Islamiyah.

Anak buah Abu Omar yang masih dicari adalah Sabar alias Bacho alias Ridho. Dia adalah pelatih di dalam kamp para militer yang dibuat di Sulawesi Tenggara bersama dengan Santoso yang juga buron.

Santoso disebut polisi sebagai anggota JAT namun dibantah oleh pengurus JAT
»»   Selanjutnya...

Jasad Terduga Teroris Diotopsi, RS Bhayangkara Yogyakarta Dijaga Ketat


Jasad terduga teroris yang tewas dalam baku tembak di Jalan Veteran, Tipes, Kecamatan Serengan, Kota Solo, Jumat (31/8/2012) malam, telah tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu sekitar pukul 01.40 WIB.

Jasad dua terduga teroris Solo tersebut dibawa menggunakan dua mobil ambulans milik Polresta Surakarta dengan pengawalan ketat.

Iring-iringan mobil ambulans dengan pengawalan sejumlah polisi di barisan depan dan belakang tersebut memasuki area RS Bhayangkara Polda DIY di Jalan Yogya-Solo Km 12, Kalasan, sekitar pukul 01.40 WIB, setelah sebelumnya sempat salah jalan menuju arah Kota Yogyakarta. tetapi kemudian berbalik arah lagi.

Menurut sebuah sumber yang minta namanya tidak disebutkan, selain jasad dua terduga teroris, satu jenazah anggota Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror yang menjadi korban dalam penyergapan tersebut juga dibawa ke RS Bhayangkara Polda DIY untuk dilakukan otopsi.

Kawasan di sekitar RS Bhayangkara juga mendapatkan pengamanan ketat dari jajaran Polda DIY dan Satbrimobda DIY, mulai dari pintu gerbang.

Siapa pun yang masuk ke area rumah sakit diperiksa oleh petugas polisi, dan yang tidak ada kepentingan mendesak tidak diperkenankan masuk, termasuk sejumlah wartawan televisi yang hanya bisa mengambil gambar dari luar pagar.

Belum ada satu pun jajaran Polri yang bersedia memberikan keterangan resmi terkait dengan penangkapan oleh petugas terhadap sejumlah orang yang diduga pelaku teror di Kota Solo tersebut.
»»   Selanjutnya...

Monday, December 24, 2012

Thorik Menamakan Kelompoknya Al-Qaeda Indonesi

Unikei - Terduga teroris Muhammad Thorik (32) dan kawan-kawan ternyata menamakan kelompoknya Al-Qaeda Indonesi. Belakangan diketahui, pemimpin kelompok tersebut adalah Badri Hartono atau Toni yang ditangkap di Solo, Sabtu (22/9/2012).

"Kelompok ini berdasarkan info yang kita terima, diklopkan dengan di Jakarta, mereka menyebutnya Al-Qaeda Indonesi, yang kita ketahui pimpinannya adalah Badri alias Toni," ujar Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (24/9/2012).

Nama tersebut terungkap setelah Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri (Densus 88 Antiteror Polri) menangkap Badri dan sembilan terduga teroris lainnya di tempat terpisah.

Badri dan kawan-kawannya, yakni RK (45), YP (60), FN (18), BN (24), K (43), IV (35), dan N (46), ditangkap di Solo.

Kemudian, di Kalimantan Barat, Densus 88 meringkus Anggri Pamungkas (18) di perbatasan Desa Cobra dengan Desa Bloyang, Kecamatan Belimbing Hulu, Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, Sabtu (22/9/2012). Anggri terkait jaringan Thorik yang diduga ikut merakit bom.

Esoknya, Minggu (23/9/2012), Densus 88 menangkap Joko Tri Priyanto (45) atau Joko Parkit di rumah kerabatnya, Mondokan, Kecamatan Laweyan, Solo.

Joko Parkit dikenal sebagai pemimpin Kelompok Laweyan, basis pendukung Noordin M Top di wilayah Solo. Joko bebas 2007, setelah sebelumnya dihukum tiga tahun penjara karena menyembunyikan Noordin M Top seusai peledakan bom di Kedutaan Besar Australia.

Sebelumnya, kelompok ini terungkap saat terjadi ledakan bom rakitan di sebuah rumah Jalan Nusantara, RT 04 RW 13, Beji, Depok, Jawa Barat, Sabtu (8/9/2012).

Rumah kontrakan tersebut diketahui menjadi tempat penyimpanan bahan peledak. Terduga teroris ikut jadi korban pada ledakan tersebut, yakni Wahyu Ristanto alias Anwar yang akhirnya meninggal dunia di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Rabu (12/9/2012), akibat luka bakar serius di bagian wajah dan lehernya.

Selanjutnya, dua terduga teroris menyerahkan diri. Keduanya adalah Thorik yang menyerahkan diri ke Pos Polisi Jembatan Lima, Jakarta Barat, Minggu (9/9/2012) sore; dan Yusuf Rizaldi (42) alias Abu Toto ke Polsek Pangkalan Susu, Langkat, Sumatera Utara, Rabu (12/9/2012) sekitar pukul 13.30.

Densus 88 juga menggeledah rumah kontrakan Yusuf di Bojong Gede, Bogor, Senin, (10/9/2012). Di sana polisi menemukan bahan peledak yang serupa dengan bahan-bahan yang ditemukan di Tambora dan Depok. Tempat tersebut juga diketahui merupakan markas kelompok Thorik, untuk menyimpan dan merakit bom.

Di Bojong Gede, polisi memboyong Arif. Setelah itu, dua terduga teroris ditangkap di Jalan Jombang Raya Sektor IX Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, Senin (17/9/2012) siang. Keduanya adalah A alias J (33) dan A alias S.

Seusai penangkapan, polisi menggeledah rumah di Tambun, Bekasi, dan memboyong A. Brigadir Jenderal (Pol) Boy Rafli Amar menjelaskan saat ini kepolisian masih mengejar empat lainnya yang ikut dalam kelompok Al- Qaeda Indonesi.

"Kita masih mencari sekitar empat yang ditelusuri berkait aktivitas mereka," terangnya.

( Sumber: Kompas Dot Com )
»»   Selanjutnya...

Saturday, December 22, 2012

Enam Terduga Teroris Ditangkap Setelah Baderi dan Rudi


Unikei -  Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar menggelar rilis terkait aksi terorisme di Bojong Gede dan Depok di Ruangan Humas Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (12/9/2012). Pada rilis ini pihak Kepolisian menunjukan berbagai alat-alat yang ditemukan seperti berbagai jenis senjata tajam, alat-alat pembuat rakitan bom serta buku terorisme. KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA

Setelah menangkap Rudi Kurnia Putra (45) dan Baderi Hartono (45) kemudian tim Densus 88 Antiteror Polri langsung bergerak menangkap enam terduga teroris lainnya di wilayah Solo.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Boy Rafli Amar menjelaskan bahwa setelah ditangkap Baderi dan Rudi berturut-turut dilakukan penangkapan terhadap  BH (45) RK (45) K (43) IV (30) N (46) FN (18) BN (28) dan T (29).

"Setelah melakukan penangkapan terhadap dua lainnya (RK dan BH) kemudian ditangkap lagi enam, sehingga totalnya menjadi delapan orang," kata Boy di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Sabtu (22/9/2012).

Menurut Boy, tertangkapnya delapan orang tersebut merupakan pengembangan dari keterangan yang diperoleh dari Muhammad Thoriq, Yusuf Rizaldi, dan Arif. "Mereka kelompok terkait bom Beji dan Tambora di Rumah Thoriq," ucap Boy.

Saat ini ke delapan orang tersebut masih berada sdi Jawa Tengah untuk dilakukan pengembangan lebih lanjut, sementara dari beberapa tempat yang digeledah hari ini, ditemukan beberapa bom aktif dan bahan-bahan pembuat bahan peledak.

"Saat ini mereka sedang diperiksa lebih lanjut untuk memastikan keterkaitanya dan nanti bisa dilihat statusnya bila kuat terlibat. Masih ada waktu 7 x 24 jam untuk nanti kita nyatakan statusnya," ungkap Boy.

( Sumber: TribunNews )
»»   Selanjutnya...

Monday, December 3, 2012

Ini Surat Wasiat Terduga Teroris Solo ke Sang Ayah


Salah satu terduga pelaku teror di Solo, Jawa Tengah, Muchsin Sanni Permadi (19) sempat menuliskan sebuah surat permintaan maaf kepada ayahnya Muslim Sanni Assidiqie (49) pada sebuah buku tulis bersampul coklat.

"Sebelumnya aku minta maaf kalau dalam keseharian aku punya salah sama bapak dan aku juga minta maaf enggak bisa bantu bapak di rumah lagi. Aku sangat berterima kasih sama bapak," tulis Muchsin dalam buku seperti yang ditunjukkan ayahnya, di kediamannya Gang Haji Latif No. 26, RT 03 RW 03, Kelurahan Batu Ampar, Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (3/9/2012).

Dalam tulisan tangan dengan huruf sambung itu terdapat coretan-coretan kata yang tak begitu jelas. Muslim pun sempat berkata, bahwa tulisan anak bungsu dari istri pertamanya itu mirip dengan tulisan seorang dokter.

"Istri saya yang melihat hari Minggu kemarin. Ngga ada yang 'ngeh' ada surat itu didalam bukunya," kata Muslim.

Muslim mengaku tak tahu mengapa Muchsin menuliskan kata-kata itu. Dia juga tak punya firasat anaknya yang berada di Pesantren Ngruki itu ikut dalam kelompok yang melakukan tindakan teror di Solo.

Sebelumnya, Muchsin bersama rekannya Farhan ditembak mati Densus 88 di Solo pada Jumat (31/8/2012) lalu. Jasad keduanya kini berada di RS Polri Kramat Jati menunggu data pembanding dari pihak keluarga.
»»   Selanjutnya...